Sejarah Lambang NKRI

April 20, 2009 oleh roem mohammad
Sepanjang orang Indonesia, siapa tak kenal burung garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila), Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu?

DIA adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab –walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak –keduanya sekarang di Negeri Belanda.

Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.

Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II.

Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) berdasarkan konstitusi RIS 1949 dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.

Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran.

Pada tanggal 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA. Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar – karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL.

Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat dimarah.

Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.

Berdasarkan transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Mas Agung (18 Juli 1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.

Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis terdiri dari M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah berdasarkan perintah Pasal 3 Ayat 3 Konstitusi RIS 1949.

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” 1978 halaman 108 untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima Pemerintah RIS dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Sedangkan Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.sebagaimana pernyataan Moh Hatta; “Patut pula ditambahkan sebagai catatan bahwa lambang dengan tulisan yang mempunyai arti yang demikian mendalam itu, dipadukan menjadi seperti sekarang ini, dengan melalui sayembara waktu RIS dulu dan dilaksanakan oleh Menteri Priyono.banyak gambar yang masuk waktu itu, tetapi yang terbaik akhirnya ada dua buah, satu dari Muhammad Yamin dan yang satu dari Sultan Hamid. Yang diterima oleh Pemerintah dan DPR adalah dari Sultan Hamid, yakni seperti sekarang ini. Adapun dari Muhammad Yamin di tolak. Karena disana ada gambar sinar-sinar matahari dan menampakan sedikit banyak disengaja atau tidak pengaruhj Jepang. Saya berpendapat bahwa apa yang ada sekarang itu, seperti uraian saya sudah tepat dan bernilai abadi bagi kehidupan negara dan bangsa Indonesia” (lihat gambar 2 dan gambar 8)

Pendapat Bung Hatta juga dikuatkan dengan pernyataan G.Soenaryo pada Majalah Forum Keadilan Edisi No 19 Tahun 1990 : “Garuda Pancasila yang merupakan salah satu atribut Negara Indonesia sekarang inipun sejarah lengkap belum terungkap, baik secara populer, apalagi secara ilmiah. Dari sejarah, memang Lambang Negara Republik Indonesia ini merupakan rancangan Sultan Hamid II,”

Pendapat yang senada adalah dari Wartawan Senior Berita Buana, Solichin Salam setelah berwancara dengan Bung Hatta. Menyatakan : “Apabila kita teliti gambar lambang negara kita sekarang ini, maka jelas benar keterangan bung Hatta, bahwa yang dipilih adalah rancangan lambang negara yang dibuat Sultan Hamid II, dengan ada garis tebal yang merupakan ciri khasnya, yaitu Garis Khatulistiwa, Dalam merancang lambang negara ini Sultan Hamid II mempunyai konsultan berkembangsaan Perancis, yakni Ruhl ahli lambang (Semiotic). Sebaliknya Yamin dalam menjalankan tugas, juga berkonsultasi dengan Ruhl”

Ahli sejarah Konstitusi juga menyatakan hal yang sama, AB Kusuma menyatakan 1997 berdasarkan hasil wawancara peneliti (Turiman,SH) dalam tesisnya ha; 90 menyatakan : “Bisa jadi benar bahwa yang membuat gambar lambang negara kita adalah Sultan Hamid II karena pada waktu itu ia dipercayakan oleh Bung Karno menjadi Menteri Negara dan juga menjadi Koordinator Perencanaan Lencana Negara, menurut saya walaupun gambar itu dibuat oleh Menteri Negara RIS Sultan Hamid II, khusus pada bagian lambang-lambang di dalam perisai yang terdapat ditengah lambang negara kita, maka hal itu merupakan perpaduan unsur dari anggota Panitia Lencana Negara. Sebenarnya yang menarik bagi saya dari sisi sejarah konstitusi adalah penjelasan tata urutan gambar-gambar lambang negara di dalam perisai sebagaimana dirumuskan pada pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 yang mengatur tentang Lambang Negara, ternyata tata urutan berbeda dengan tata urutan sila-sila Pancasila di dalam Pembukaan UUDS 1950 sebagai dasar hukum dikeluarkan Peraturan Pemerintah tersebut dan hal ini menarik apabila dikaitakan dengan pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen.”

Pendapat lain yang menarik memperkuat pendapat di atas adalah dari Akmal Sutja dalam bukunya Sekitar Pancasila, 1986, halaman 76-77 yang membenarkan pendapat Bung Hatta sebagaimana dinyatakan Bung Hattta pada halaman 108 dan 112 yaitu : “Sampai ada penelitian yang dapat dipercaya hal ini, kiranya dapat diterima saja keterangan dari Bung Hatta, bahwa Sultan Hamid II yang mendapat ilham brilian untuk mengangkat kembali simbol-silmbol asli bangsa Indonesia yang dimuliakan oleh bangsa Indonesia sepanjang sejarahnya, Karena Bung Hatta salas satu seorang pemimpin yang cukup dipercaya yang saat itu menjabat Wakil Presiden, membenarkan pendapat ini, ketimbang praduga berdasarkan latar belakang Muhammad Yamin. “

Pernyataan Drs Akmal Sutja ini yang menjadi inspirasi Turiman Fachturahman Nur,SH,MHum melakukan penelitian ilmiah lebih mendalam di Program Magister Ilmu Hukum UI dalam bentuk penelitian ilmiah dengan judul Tesis: “Sejarah Hukum Lambang Negara Republik Indonesia (Suatu Analisis Yuridis Normatif Tentang Pengaturan Lambang Negara Dalam Peraturan Perundang-Undangan)” dibawah Bimbimgan Prof DR.H, Dimyati Hartono,SH selaku pengasuh mata kuliah Sejarah Hukum dan DR.H Azhary,SH,MH, pengasuh mata kuliah Ilmu Kenegaraan di UI, 1999.

Berbagai pernyataan nara sumber itulah yang diteliti oleh peniliti, dan juga pernyataan Sultan Hamid II sendiri, dalam Pledoi yang dibacakan pada sidang Mahkamah Agung tanggal 23 Maret 1953 yang terkenal dengan “peristiwa Sultan Hamid II, beliau menyatakan “Apakah yang harus dikerjakan? Tindakan apa yang saya dapat ambil ? Sebagai Menteri Negara saya hanya diserahi tugas menyiapkan gendung parlemen dan membikin rencana lambang negara, Sampai saya ditangkap (5 April 1950) dan kemudian ditahan tak ada tugas lain tugas saya”.
Pertanyaannya adalah bagaimana proses perjalanan sejarah perancangan lambang negara Republik Indionesia setelah rancangan Sultah Hamid II diterima oleh Pemerintah dan Parlemen RIS, Tahun 1950 ?

Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu.Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.

Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis. (lihat gambar 1)

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri.

AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI, 1978, hal 6 menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “’tidak berjambul”’ seperti bentuk sekarang ini seperti pernyataan A;G Pringgdigdo: “Berdasarkan atas pasal 3 Konstitusi itu (RIS) pada tanggal 11 Februari 1950 Pemerintah RIS menetapkan lambang Negara yang berupa lukisan burung garuda dan perisai, yang terbagi dalam 5 ruang yang mengingatkan kepada PANCASILA. Pada waktu itu burung Garuda kepala “gundul”, tidak pakai “jambul” ” (lihat gambar2)., Hal ini berubah dalam Lambang Negara Republik Indonesia Kesatuan yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Tanggal 17 Oktober 1951 No 66 Tahun 1951” bukankah gambar yang dimaksud adalah rancangan Sultan Hamid II sebagai Menteri Negara Zonder Forto Folio RIS yang terpasang pertama kali di Ruang Sidang Parlemen RIS” 17 Agustus 1949 (lihat gambar2).

Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul,” hanya bentuk cakar kaki Garuda Pancasila yang mencengkram pita putih bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika masih menghadap ke belakang dan gambar ini masih terus menerus mendapat masukan dari Presiden Soekarno (lihat gambar 3).

Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini, sehingga cengkraman kaki Garuda Pancasila menghadap kedepan dan keterangan ini sebagaimana disitir dari Majalah Gatra No 32 Tahun I, 25 Juni 1995 dalam Judul “Bung Karno,Ikan dan Air, yang menyatakan:” ….salah satu bentuk kepercayaan itu ialah permintaan bung Karno kepada Dullah untuk mengubah posisi kaki gambar Pancasila (Peneliti Gambar Lambang Negara yang tadi dirancang kementerian Penerangan, kaki garuda dilukiskan seolah-olah menghadap kebelakang. Dan oleh Dullah dilukis kembali dengan membalik sehingga menghadap kedepan..” (lihat gambar 5), sebagaimana sketsa perbaikan dari Sultan Hamid II yang diserahkan kepada Kementerian Penerangan dan telah disposisi oleh Presiden Sokarno tanggal 20 Maret 1950 (lihat gambar 4).

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974 Rancangan terakhir inilah yang menjadi lampiran resmi PP No 66 Tahun 1951 Tentang Lambang Negara dan berdasarkan pasal 2 jo Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 yang menyatakan; “Perbandingan-Perbandingan ukuran adalah menurut gambar tersebut dalam Pasal 6..” dan Pasal 6 PP Nomor 66Tahun 1951 menyatakan “Bentuk warna dan perbandingan ukuran Lambang Negara Republik Indonesia adalah seperti terlukis dalam lampiran pada Peraturan Pemerintah ini”. Bukankah Lambang Negara yang dimaksudkan pada Pasal 2 jo Pasal 6 PP Nomor 66 Tahun 1951 adalah yang diserahkan oleh Sultan Hamid II kepada H. Mas Agung Ketua Yayasan Idayu pada tanggal 18 Juli 1974, (Lihat gambar 6) sedangkan Gambar Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak. (lihat gambar 4 dan gambar 3)

Turiman Fachturahman Nur SH M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak yang mengangkat sejarah hukum lambang negara RI sebagai tesis demi meraih gelar Magister Hukum di Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa hasil penelitiannya tersebut bisa membuktikan bahwa Sultan Hamid II adalah perancang lambang negara. “Satu tahun yang melelahkan untuk mengumpulkan semua data. Dari tahun 1998-1999,” dokumen lambang negara ditelusuri dari berbagai institusi antara lain dari Yayasan Idayu Jakarta, Yayasan Mas Agung Jakarta, Badan Arsip Nasional, Pusat Sejarah ABRI dan tidak ketinggalan Keluarga Istana Kadariah Pontianak, merupakan tempat-tempat yang paling sering disinggahinya untuk mengumpulkan bahan penulisan tesis yang diberi judul Sejarah Hukum Lambang Negara RI (Suatu Analisis Yuridis Normatif Tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Peraturan Perundang-undangan).

Di hadapan Dewan penguji, Prof Dr M Dimyati Hartono SH dan Prof Dr H Azhary SH, dia (Turiman SH) berhasil mempertahankan tesisnya itu pada hari Rabu 11 Agustus 1999. “Secara hukum, saya bisa membuktikan. Mulai dari sketsa awal hingga sketsa akhir. Garuda Pancasila adalah rancangan Sultan Hamid II” sebagaimana Lampiran Resmi PP No 66 Tahun 1951 Tentang Lambang Negara berdasarkan pasal 2 jo Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 yang menyatakan; “Perbandingan-Perbandingan ukuran adalah menurut gambar tersebut dalam Pasal 6..” dan Pasal 6 PP Nomor 66Tahun 1951 menyatakan “Bentuk warna dan perbandingan ukuran Lambang Negara Republik Indonesia adalah seperti terlukis dalam lampiran pada Peraturan Pemerintah ini”

Saat ini yang menjadi persoalan dan menjadi agenda perjuangan anak bangsa adalah bagaimana Pemerintah RI dan DPR dan Tokoh-Tokoh masyarakat khususnya masyarakat Kalimantan Barat mewujudkan wasiat beliau (Sultah Hamid II), ketika menyerahkan file lambang negara kepada H.Mas Agung, 18 Juli 1974 dan pesan lisan beliau kepada kerabat Kraton/istana Kadariyah Kesultanan Pontianak dimasa hidup beliau.”Mungkin ini adalah yang dapat saya sumbangkan kepada bangsa saya, kamu jangan pasang lambang negara dirumahmu sebelum diakui bahwa gambar itu rancangan Hamid” kemudian pesan tertulis sebagaimana tertera pada tulisan tangan Sultan Hamid II di atas kertas berlogo RTC bertahun 1949 dihadapan H. Mas Agung dan disaksikan sekretaris pribadi Sultan Hamid II. Max Yusuf Alkadrie dan Albert Law di Yayasan Idayu jln Kwitang Jakarta Pusat Nomor 24 Tanggl 18 Juli 1974 menyatakan “…….,mudah-mudahan sumbangan pertama saya ini (buku-buku) ini bermanfaat bagi negara yang dicintai oleh kita “ (lihat file dokumen 9)

Sebenarnya dari rekomendasi Seminar dan Dialog Nasional tentang Lambang Negara yang diadakan di Kota Pontianak Hotel Kapuas Palace Tahun 2000 yang dihadiri Anggota PAH I MPR RI dan Ketua DPR-RI, Pemerintah Daerah Provinsi Kalimatan Barat. DPRD Provinsi Kal-Bar, serta tokoh masyarakat Kalimantan Barat yang sebelumnya diawali dengan pelaksanaan Khaul Sultan Hamid II di istana Kadariyah Pontianak tanggal 30 Maret 2000, sudah ada 2 (dua) agenda yang sudah terwujud, yaitu pertama, Amandemen UUD1945 dengan memasukan Pasal tentang Lambang Negara yaitu Garuda Pancasila berdasarkan hasil seminar tersebut dan kedua, sosialisasi terus menerus setiap tanggal; 1 Juni pada moment lahirnya Pancasila oleh peneliti maupun oleh Universitas Tanjungpura Pontianak yang diinisiator oleh Fakultas Hukum UNTAN, bahkan Korwil ESQ Kal-Bar pada momen Temu Nasional ESQ, Tahun 2006 mengadakan Pameran Dokumen Lambang Negara di Balai Senayan, demikian juga dalam berbagai kesempatan lain, seperti pameran di UNTAN dan di berbagai tempat di Kalimantan Barat.

Namun patut disadari bersama, bahwa masih ada agenda yang tertinggal dan perlu diperjuangkan bersama oleh anak bangsa, yaitu Agenda Ketiga, yaitu: Pengakuan Resmi dari Pemerintah RI dalam hal ini oleh Presiden terpilih dari hasil pemilihan langsung untuk memberikan penghargaan dab pengakuan resmi, bahwa perancang lambang negara RI adalah Sultan Hamid II dalam kapasitas sebagai Menteri Negara RIS 1949-1950 sebagaimana negara mengakui, bahwa pencipta Lagu Indonesia Raya adalah WR Supratman dan penjahit bendera pusaka merah Putih adalah Ibu Fatmawati, tentu Pemerintah RI harus berlaku adil untuk semua anak bangsa yang telah memberikan sumbangsih walaupun secuil seperti Sultan Hamid II, yaitu anak bangsa dari bumi Kalimantan Barat yang merupakan bagian dari Negara Republik Indonesia.

Sultan Hamid II saat ini sudah wafat menghadap Kehadirat Allah SWT pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang, tetapi mana penghargaan Bangsa dan Negara Republik Indonesia kepada beliau, ingat bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjalanan sejarahnya siapakah yang peduli dengan pelurusan sejarah bangsa khususna Sejarah Hukum Lambang Negara ini ? jika bukan kita sebagai anak-anak bangsa.

Mewujudkan wasiat anak bangsa yang masih tertinggal di bangsa ini adalah selaras dengan perintah Allah SWT di dalam Al-Qur’an; “Sesungguhnya Allah telah menyuruhmu untuk menyampaikan amanaht kepada yang berhak menerimanya Dan bila kamu menetapkan hukum antara manusia, maka penetapan hukum itu hendaklah adil, bahwa dengan itu Allah telah memberikan pengajaran sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Melihat (QS An Nisaa (4) Ayat 58)

Pada ayat lain Allah SWT menegaskan;”Hai orang-orang yang beriman ! Hendaklah kamu berdiri tegak di atas kebenaran yang adil semata-mata karena Allah dalam memberikan kesaksian dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum sampai mempengaruhi dirimu untuk berlaku tidak adill, Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Karena itu bertaqwalah kamu kepada Allah ! Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al Maidah (5) Ayat 8).

Jakarta, Senin 9 Juli 2007
Yayasan Sultan Hamid II Jakarta

Ketua Umum,
H. Max Yusuf Alkadrie
Sekretaris,
Turiman Fachturahman Nur, SH.MHum

————————————-
Sepanjang sejarah orang Indonesia, siapa tak kenal burung garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila)? Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu? Perancang dan pembuat lambang negara itu adalah Sultan Hamid II. Dan burung garuda dijadikan lambang negara Republik Indonesia hingga sekarang.

5 Belenggu Mental

Maret 16, 2009 oleh roem mohammad

Thomas Alfa Edison berhasil menciptakan bola lampu setelah mengalami 999 kali kegagalan, tetapi dia merasa tidak pernah gagal. Bang Thomas berkata “aku telah menemukan 999 bahan yang tidak cocok digunakan sebagai bola lampu”. Demikian halnya dengan ilmuwan-ilmuwan dan penemu-penemu hal yang mengubah dunia lainnya.

Orang Indonesia dikenal sebagai orang yang jarang gagal, karena orang Indonesia jarang melakukan eksperimen dan hanya menjadi penikmat, bahkan peniru (lebih ekstrim;pemalsu) hasil eksperimen orang lain.

Penyebabnya adalah kebanyakan dari kita terbelenggu oleh sikap mental yang tidak membangun dan cenderung mematahkan semangat kita. Ditengarainterdapat 5 belenggu mental yang mematahkan kita.

PERTAMA, kita tidak punya cukup rasa percaya diri. Kita tidak sepenuhnya percaya bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar melebihi bangsa-bangsa lain di dunia. Kita hanya percaya bahwa bangsa ini telah dijajah selama 350 tahun, dan itu membuat nyali kita ciut sehingga minder disejajarkan dengan bangsa lain. Padahal sesungguhnya  selama 350 tahun penjajah hidup di negeri ini bukankah kakek-buyut kita juga berjuang selama itu untuk mempertahankan negeri tercinta ini. Kakek-buyut kita memiliki semangat ketahanan yang luar biasa untuk mempertahankan negeri ini tidak jatuh ke tangan penjajah. Tapi pemerintahan kita seenaknya sendiri menjual bagian demi bagian negeri ini. Ayo, kita kembali pada semangat perjuangan kakek-buyut kita yang mampu melepaskan diri dari penjajahan. Jika dahulu kakek kita lepas dari penjajahan fisik, sekarang kita harus bisa keluar dari penjajahan mental yang membelenggu.

KEDUA, kita terlalu naif memaknai usia karunia sang pencipta. Di masa muda tidak ada hal besar dan berharga yang kita perbuat lalu kita berdalih “kita kan masih muda, belum bisa berbuat apa-apa”. Saat usia senja menghampiri, kita pun berdalih “bukan masanya lagi aku berbuat seperti itu”. Padahal, Kol. Sanders memulai kesuksesannya mendirikan KFC pada usia pensiun, sakarang KFC mendunia dan kita hanya bisa jadi konsumennya.

KETIGA, kita terjebak dalam status pendidikan. Ketika kita tidak berkesempatan mengenyam bangku sekolah hingga tingkat tertentu (baca:kuliahan) kita sudah merasa bahwa kita tidak akan mampu berbuat banyak untuk hidup dan kehidupan ini. Faktanya bahwa jumlah besar pengangguran di negeri ini adalah sarjana. Di sisi lain kita tidak pernah bercermin pada kesuksesan orang lain yang juga tidak berkesempatan sekolah. Andre Wongso misalnya, SD tidak tamat tetapi mampu menjadi motivator nasional saat ini. Meskipun sekolah itu penting, namun sikap mental tidak menyerah itu lebih penting.

KEEMPAT, Pikiran kita seringkali dikalahkan oleh fisik kita. Manakala cacat fisik mendera kita, kita merasa seolah-olah dunia ini telah berakhir. Padahal, Tuhan senantiasa membeikan kelebihan di setiap kekurangan. Sekali lagi, mental kerdil kita terkalahkan.

KELIMA, kita terhipnotis pada dalih NASIB. Memang sudah nasib kita seperti ini …… Padahal tuhan berkata tidak akan pernah mengubah nasib seseorang sehingga ia mengubah nasibnya sendiri.

Nah, saudaraku. Mari kita bangun negeri ini di atas pondasi kekuatan mental positif. Penjajahan mental jauh lebih membahayakan daripada penjajahan fisik. Jangan biarkan anak-anak kita mewarisi sikap mental negatif yang merendahkan harkat dan martabat kita sebagai bangsa merdeka.

KITA BUTUH KESALAHAN

Januari 14, 2009 oleh roem mohammad

Lebih baik SALAH karena BERBUAT, daripada tidak pernah SALAH karena tidak pernah BERBUAT.

Tersebutlah dua bersaudara, kakak beradik. Si kakak sekarang tinggal di kota karena harus kuliah, sedang si adik masih tinggal di desa kelahiran mereka.

Suatu waktu, si kakak pulang ke desa ketika liburan. Si adik menyambut dengan sukacita dan penuh bangga, maklum di desa tersebut jarang sekali anak muda yang punya kesempatan kuliah. Sehingga setiap anak muda yang kuliah pastilah menjadi kebanggaan keluarganya, bahkan kebanggaan desanya.

Begitu si kakak tiba di rumah, segera diajaknya oleh si adik berkeliling desa. Setiap bertemu warga desa, tak lupa si adik membanggakan kakaknya yang kuliah di kota itu.

Sampailah mereka di sebuah warung. Karena haus dan lapar setelah berkeliling desa, mereka bermaksud membeli minuman dan makanan. “Bu, kenalkan ini kakakku yang kuliah di kota!” ujar si adik membanggakan kakaknya kepada ibu penjual.

“Oo …, silakan mas! Mas nya mau makan apa?” Tanya ibu penjual kepada si kakak dengan senyum hormat.

“Nasi goyyeng!” jawab si kakak.

Spontan ibu penjual dan pengunjung warung tertawa mendengar jawaban si kakak. Wajah si adik pucat pasi menahan malu sambil berkata “tidak jadi bu’ kami pulang dulu”, dan segera mengajak si kakak keluar dari warung.

Dengan keheranan si kakak mengikuti langkah adiknya. Sesampainya di jalan, si kakak bertanya “Ada apa sih dik, kok kita gak jadi makan?”

“Iihhh, kakak malu-maluin! masak bilang nasi goreng saja gak bisa! kakak kan sudah sekolah di kota, aku kan malu kak!” jawab si adik. “Ooo itu tho! Kakak memang gak bisa! Tapi kakak janji mau belajar ngomong nasi goreng yang bener!”. 

Setelah peistiwa itu, di kota, si kakak berusaha mengucapkan nasi goreng dengan lafadz yang benar. Setiap hari si kakak berlatih dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi janji pada si adik. Setelah dirasa cukup fasih, si kakak memutuskan untuk pulan ke desa dan membuktikan hasil belajarnya kepada si adik.

Ketika sampai di rumah, si kakak berkata “dik, kakak sudah bisa! Mari kita ke warung yang dulu”. 

Dengan semangat membara, mereka menuju warung yang dimaksud. Sesampainya di warung, kakak beradik disambut ramah oleh ibu penjual. Sambil senyum hormat si ibu bertanya “mau makan apa mas?”

“Nasi gorrreng!” jawab si kakak dengan mantap.

“Minumnya apa?” tanya ibu penjual lagi.

“Es jeyyuk!” ….!…?… :)

……………………………………………….

Kesalahan merupakan perilaku yang pasti pernah dan akan selalu dialami oleh manusia. Kesalahan senantiasa melekat pada diri manusia semenjak mereka mengenal kehidupan. Ketika mulut mulai terbata-bata berbicara, jatuh-bangun belajar berjalan, mendapat nilai jelek saat sekolah, bahkan sampai melakukan kesalahan di tempat kerja.

Semua orang pernah dan selalu akan mengalami kesalahan. Namun setiap orang berbeda dalam menyikapi kesalahannya. Ada yang menyikapi secara negatif, sehingga ia menjadi trauma dengan kesalahan yang diperbuat. Juga ada yang menyikapi kesalahan secara positif. Cara seperti inilah yang nantinya membawa seseorang menjadi luar biasa.

KESALAHAN ADALAH SESUATU YANG BISA KITA HIDARI DENGAN TIDAK BERKATA APA-APA, TIDAK BERBUAT APA-APA, DAN TIDAK MENJADI APA-APA.

Mario teguh memberikan 5 tips menyikapi kesalahan secara positif;

  1. Kesalahan kita butuhkan untuk mencapai hasil yang lebih baik. Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan sempurna, kecuali ciptaan Tuhan. Manusia membutuhkan proses untuk berbuat yang terbaik, berawal dari kesalahan mendekati kesempurnaan.
  2. Membuat kesalahan, adalah lebih baik daripada tidak berbuat apa-apa. Manusia tidak akan pernah tahu yang dilakukan itu benar atau salah sebelum mereka berbuat. Perbuatan seseorang akan memicu dua respon, yakni  persetujuan/dukungan orang lain dan kontroversi/kritik dari orang lain.
  3. Kesalahan yang tidak kita hadapi saat ini, akan muncul lagi pada waktu dan kesempatan yang lain. Apa yang kita hindari saat ini, bisa jadi menjadi bomerang pada saat yang lain. Selesaikan permasalahan saat ini sekarang juga, jangan di tunda. Ketika kita menunda menyelesaikan masalah, sesungguhnya akan berdatangan masalah-masalah yang lain.
  4. Kesalahan selalu memberikan pelajaran untuk mencapai cara-cara yang lebih baik, maka tidak begitu penting itu kesalahan kita atau kesalahan orang lain. Keledai tidak pernah jatuh dua kali di lubang yang sama, apalagi manusia!. Cukuplah sekali melakukan kesalahan, dan selanjutnya senantiasa belajar dari kesalahan.
  5. Bila kita tidak mencapai keberhasilan hebat; masih ada keberhasilan baik; keberhasilan lumayan; keberhasilan cukup; ,,,,,,, atau hampir berhasil …….. kemudian “… belum berhasil …” nggak apa-apa! setidaknya kita tidak melakukan kesalahan hebat.

Jadikan kesalahan sebagai energi positif untuk mencapai kesiapan menjadi pemenang, sebagaimana ungkapan maxwell “orang harus cukup tegar memaafkan kesalahan orang lain, cukup pintar untuk belajar dari kesalahan, dan cukup kuat untuk mengoreksi kesalahannya sendiri”.

“Orang SUKSES, menjadikan kesalahan sebagai pelecut motivasi untuk terus-menerus malakukan perbaikan bagi dirinya”.

//sebagian besar dikutip dari buku Nyalakan Nyali by didik hermawan.

Sukses dari NOL

Januari 12, 2009 oleh roem mohammad

Tidak ada yang gratis di dunia ini, beberapa teman sering mengungkapkan kalimat tersebut (meski dengan nada gurauan). Ya, saya pikir juga demikian, kita harus membayar ongkosnya. Sedangkan ongkos kesuksesan adalah kerja maksimal.

Berkait kerja maksimal, terdapat pernyataan bagus dari  Arnold Bennet “yang tragis adalah orang yang seumur hidupnya tidak pernah mengerahkan seluruh kemampuan maksimalnya”. Bukankah sesungguhnya dalam diri manusia terdapat unsur pembentuk yang sama? Diciptakan dari proses penciptaan yang sama pula (al-quran). Tapi tak sedikit pula manusia yang menyerah gara-gara memiliki banyak keterbatasan dalam dirinya.

Kita tidak seharusnya mengijinkan pikiran-pikiran negatif mempengaruhi hidup kita. Tapi, seyogyanya kita senantiasa mengembangkan pikiran-pikiran positif yang dapat memotivasi kita untuk bekerja secara maksimal. Muhammad (Rosulullah) dilahirkan dan dibesarkan dalam keadaan ummi (buta huruf), tetapi beliau mampu mengukir sejarah dunia dengan bakat kepemimpinannya yang luar biasa sehingga Karen Armstrong menempatkannya pada posisi teratas dalam buku 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia.

Banyak orang-orang sukses dan berpengaruh di dunia berasal dari keluarga miskin, tidak bersempatan merasakan pendidikan yang layak, banyak pula di antara mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Tapi, mereka mampu membuktikan kepada dunia bahwa mereka mampu meraih hal-hal yang tidak dapat diraih kebanyakan manusia lainnya.

ALIM MARKUS, presdir maspion group memulai usaha dengan keluar-masuk pasar menjajakan barang dagangannya. KOLONEL SANDERS, pendiri KFC memulai bisnisnya dengan mengantar barang dagangannya ke rumah-rumah pada usia 65 tahun. HENRY FORD, pendiri FordMotor memulai usahanya dengan magang sebagai montir di sebuah bengkel dan malam harinya bekerja di toko permata sebagai pembersih jam. BEETHOVEN, ketulian tidak menghalanginya  mencipta simponi klasik terindah sepanjang zaman. Kelumpuhan SHAKESPARE tidak membuatnya putus asa untuk mencipta sandiwara-sandiwara panggung dunia. Ketuaan IBNU HAJAR tidak menghalanginya menghasilkan karya-karya besar melalui buku-bukunya. Dan masih banyak lagi manusia dengan keterbatasan yang dimiliki, masihlah mereka memiliki keunggulan daripada manusia-manusia lainnya.

DR. AIDH AL QARNI dalam buku La Tahzan, menyampaikan “orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengubah padang pasir menjadi taman yang indah”. Kita kelola kelemahan dan keterbatasan menjadi sebuah kekuatan dalam diri kita. Kuncinya ada pada diri kita sendiri, jika kita mau — kita pasti bisa. Untuk membangun kemauan tentu kita harus berani bermimpi, karena dari mimpi kita bisa membuat kunci untuk menaklukkan dunia.

Akan lebih baik, jika mimipi yang kita bangun dibarengi dengan beberapa usaha berikut:

Cintai apa yang menjadi pekerjaan kita, pekerjaan terbaik adalah yang sesuai dengan jiwa kita. Kita akan merasa menikmati pekerjaan manakala kita mencintai apa yang kita kerjakan, sehingga pekerjaan merupakan bagian dari kebutuhan kita bukan sekadar kewajiban. Kecintaan terhadap pekerjaan niscaya membuahkan motivasi untuk berbuat yang terbaik dalam pekerjaan kita.

Mari kita kuasai suatu keterampilan, dengan keterbatasan yang kita miliki sudah barang tentu kita menguasai multiketerampian. Mari kita kuasai salah satu keterampilan yang sesuai dengan apa yang sudah kita miliki. Selanjutnya, kita pertajam keterampilan tersebut dengan banyak-banyak mengasah diri, menggali pengalamn sedalam-dalamnya. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik buat kita?

Fokus, adalah sebuah saran yang dipaksakan jika kita menghendaki kesuksesan pada apa yang kita usahakan. Fokus akan membantu kita terkonsentrasi pada mimpi yang kita bangun, tidak terombang-ambing dengan keinginan-keinginan lain yang bersifat temporer. Fokus membantu kita mempercepat pencapaian tujuan, karena energi yang kita miliki kita pusatkan pada satu keinginan.

Terakhir, jangan pernah melupakan Allah (pemilik diri kita), kita hadirkan Allah dalam setiap langkah kita berusaha sehingga setiap usaha yang kita lakukan bernilai ibadah, karena hal itu merupakan wujud penghambaan kita kepadaNya.

“Orang bijak memahami, bahwa sebuah sukses dibangun di atas pondasi usaha yang maksimal”.

kita buat komitmen kita, mulai …….. sekarang.

Mak

Januari 8, 2009 oleh roem mohammad

Mak…..
Aku ingat kala itu
Kau memintaku menemanimu ke ladang
Mengajak aku memetik buah jambu yang sudah memerah
Kulihat engkau memang butuh ditemani
Tapi apa jawabku …..
Aku menolak ajakanmu
dan memilih terus bermain bersama Hasan, Umar, dan Puji
Aku tak menghiraukanmu Mak …
Kala itu …..
Aku memang masih kelas 3 SD
Tapi tidak sekarang
Dalam hati kecil, kuberkata
Takkan lagi kuabaikan ajakanmu Mak …
Maafkan aku